Artikel News

Sekitar 100 santri putra dan putri dari berbagai pondok pesantren mengikuti musabaqoh kitab kuning tingkat nasional di Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Lebo Sidoarjo, Jawa Timur. Acara yang diinisiasi Garda Bangsa, organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga dimeriahkan ribuan rebana se-Sidoarjo.
 
Ketua panitia musabaqoh kitab kuning tingkat nasional, Syaikhul Islam Ali mengatakan, ada sekitar 40 pondok pesantren dari Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban yang tampil di dalam tahap penyisian musabaqoh kitab kuning tingkat nasional tersebut.
 
"Bagi juara satu, dua putra-putri akan mengikuti babak final di Jakarta pada tanggal 12-13 April 2016. Sedangkan untuk juara tiga dan empat putra-putri akan mengikuti babak final tingkat Jawa Timur di pesantren Denanyar Jombang," kata pria yang akrap disapa Gus Syaikhul ini, Sabtu (2/4/2016).
 
Gus Syaikhul mengemukakan, digelarnya musabaqoh kitab kuning ini adalah untuk membangkitkan semangat generasi muda agar meneladani para ulama serta menumbuhkan semangat berkompetisi para santri untuk menghadapi persaingan global.
 
Pihaknya berharap, para santri tetap menjaga kelestarian khazana pengetahuan dari para ulama sebagai bekal untuk menghadapi tantangan zaman.
 
Menurutnya, kitab kuning adalah benteng yang kokoh bagi para santri. Selain itu, kitab kuning dapat menjadi filter bagi para santri dari gempuran budaya luar yang tidak produktif, atau bahkan cenderung merusak.
 
"Kitab yang dipakai dalam musabaqoh ini yaitu kitab Ihya Ulumuddin. Karena kitab tersebut memberikan pesan kepada kalangan pesantren akan pentingnya gerakan deradikalisasi," terangnya.
 
Gus Syaikhul menambahkan, kitab Ihya Ulumuddin itu merupakan salah satu kitab yang mengajarkan luasnya makna jihad.
 
"Jihad disini bukan sekadar jihad fisik menghadapi musuh Islam. Akan tetapi, jihad adalah satu upaya menegakkan ajaran agama dalam seluruh sendi kehidupan. Contohnya, jihad melewan kemiskinan, jihad melawan kebodohan, jihad melawan penindasan serta jihad melawan korupsi," pungkas Gus Syaikhul.
 
Sementara itu menurut Wakil Bupati Sidoarjo Nur Achmad Syaifuddin, mengaku bersyukur karena pemerintah mendapatkan bantuan yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa seandainya tidak ada pemikian dari para kiai atau ulama di pesantren terutama dari kalangan Nahdliyin, tentu bangsa ini akan sulit mempertahankan NKRI.
 
"Kita akan berat mempertahankan NKRI jika tidak ada pesantren, kiai dan para ulama dari NU. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berterima kasih atas pemikiran pondok pesantren. Mudah-mudahan acara ini bisa berjalan baik sesuai dengan harapan dan tidak hanya pada momen PKB saja. Karena PKB juga dari para pesantren," ucap pria yang akrap disapa Cak Nur ini. (Ika Auza Riati/Zunus)