Artikel News

Ketua H. Syarbani Haira mengatakan, ada lima aspek penting Idul Fitri ini. Pertama, dimulainya nilai kehidupan. Dengan Idul Fitri kita kembali suci. Tentu saja ini hanya bisa melanda pada orang-orang tertentu. Tidak semua orang betul-betul menjadi suci, sehabis puasa sebulan penuh.

“Banyak hal yang harus dipenuhi agar manusia mampu mencapai titik ini. Hanya orang yang tulus, tawakkal dan istiqomah saja yang bisa,” katanya Rabu (6/7).

Kedua, adalah tindak lanjut. Ini lebih berat karena memerlukan manusia super yang bisa menjalankan semua pemahaman, pengetahuan dan perkataannya dalam kehidupan sehari hari.

“Kenyataan hari ini malah manusia hipokrit yang muncul di mana-mana. Ngomong nya luar biasa bagus, tetapi perilakunya malah kian buruk. Ini yang menyedihkan. Kita sudah kehilangan tokoh dan figur ideal karena ketidak seimbangkan antara perkataan dengan perbuatan,” katanya.

Ketiga, pemahaman ajaran agama secara berimbang. Hari ini manusia memahami agama secara parsial. Agama seolah-olah  hanya ibadah saja. Padahal urusan ibadah ini mencakup banyak sisi, seperti disinyalir Prof Mahmud Syaltout dalam kitabnya Aqidah wa Syariah, aqidah berurusan dengan teologi atau keimanan. Syariah berurusan dengan hukum dan perundang-undangan.

“Dalam hal ini ada lima hal yang resmi diatur Allah SWT, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia sesama manusia, hubungan manusia dengan iptek, hubungan manusia dengan lingkungan,” tambahnya.

Keempat, harusnya pasca-Idul Fitri ini semua manusia harus menyadari jika kewajiban komunikasi dengan Tuhan itu setara dengan kewajiban menuntut ilmu dan memelihara alam lingkungan. Juga soal kebersamaan, seyogianya bukan sebatas komunikasi sesama muslim saja, melainkan dengan semua manusia.

Kelima, semangat persatuan dan kesatuan inilah hari ini yang masih timpang. Inilah yang harus dioptimalkan semua manusia di mana saja berada.