Artikel News

Di tengah kesulitan hubungan diplomatik yang sedang dialami Taiwan, berbagai pihak baik organisasi Taiwan maupun perorangan di luar negeri terus memberikan bantuan dan dukungan untuk menjalin persahabatan mulai dari golongan masyarakat di tingkat bawah. Di Indonesia, tim ahli pertanian dari Taiwan dengan giat memberikan bimbingan kepada para petani lokal untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Selain itu, yayasan sosial yang didirikan oleh pengusaha Taiwan juga berupaya untuk membantu warga miskin, dan membangun sekolah agar anak-anak mereka dapat memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Anggota masyarakat tersebut merasa sangat terbantu dan berterima kasih dengan adanya uluran tangan dari warga Taiwan di Indonesia.

Yayasan Amal Tiga Roda yang didirikan oleh para pengusaha Taiwan di Indonesia, secara jangka panjang telah menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat kurang mampu, dan berupaya untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka. Ketika terjadi bencana alam, Yayasan Amal Tiga Roda juga dengan sigap mengirimkan bantuan ke daerah bencana.

Kelurahan Karet Tengsin, Jakarta Pusat selalu terendam banjir saat musim hujan tiba. Penduduk yang tinggal di kawasan ini menggunakan berbagai perabot rumah tangga yang mereka miliki untuk mengeluarkan air dari dalam rumah. Dua tahun yang lalu, Yayasan Amal Tiga Roda menyumbangkan beberapa mesin penyedot air kepada penduduk Karet Tengsin, sehingga ketika musim hujan mereka tidak perlu lagi khawatir tentang banjir.

Pendidikan adalah penggerak pembangunan yang berfungsi untuk memajukan masyarakat, kualitas belajar memiliki hubungan erat dengan lingkungan dan dapat mempengaruhi efektifitas kegiatan belajar. Yayasan Amal Tiga Roda datang ke Tangerang untuk meningkatkan lingkungan belajar siswa-siswi di sana.

Direktur pelaksana Yayasan Amal Tiga Roda, Lai Huan-tse, mengatakan pada awalnya masyarakat Indonesia menilai pengusaha asing hanya datang ke Indonesia untuk membuka pabrik dan memeras buruh, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Pengusaha Taiwan melalui Yayasan Amal Tiga Roda ingin membantu dan mengatasi kesulitan yang dialami masyarakat sekitar, meningkatkan taraf hidup mereka dan membantu mereka memahami kehangatan orang Taiwan.

Yayasan Pengembangan Kerja Sama Internasional (International Cooperation Development Fund, ICDF) mengirimkan tim ahli pertanian untuk mengajarkan para petani di Bali menanam asparagus, kegiatan ini dapat menambah penghasilan mereka dan meningkatkan kualitas hidup petani. Kisah tentang hubungan diplomatik kerakyatan seperti ini telah dimuat di koran Jakarta Post.

Desa Pelaga di Bali memiliki tanah yang subur, dan curah hujan yang cukup tinggi. Petani setempat suka menanam ketela pohon, jagung dan kopi, namun kegiatan menanam seperti ini hanya dapat memberikan penghasilan bersih sekitar US $10 per orang setiap bulannya. Sehingga tidak sedikit para petani yang menjual tanah mereka kepada pengusaha villa untuk menyambung hidup.

Setelah petani Desa Pelaga beralih menanam asparagus dengan teknik yang diajarkan oleh tim ahli Taiwan, penghasilan mereka meningkat dan tidak perlu lagi menjual tanah.

Setelah beberapa tahun, kini Desa Pelaga telah menjadi kawasan penghasil Asparagus berkualitas dengan produk yang dapat dijual hingga US $5 per-kg.

Sebelumnya, penduduk Desa Pelaga banyak yang meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di kota lain, karena merasa bidang pertanian tidak menjanjikan, namun saat ini mereka menilai bertani di kampung halaman sendiri adalah pekerjaan terbaik di dunia.

Penduduk yang merantau ke luar kota pun perlahan-lahan mulai kembali untuk bertani. Masyarakat setempat mengucapkan terima kasih atas bantuan dan persahabatan dari tim ahli pertanian Taiwan.

Dalam bidang pendidikan, sekolah kejuruan skala kecil yang dibangun oleh pengusaha Taiwan mulai membuahkan hasil. Sekolah bernama "Formosa Teknologi Sentral" meluluskan siswa gelombang pertama pada bulan Mei tahun lalu, 10 orang siswa menerima sertifikat di bidang desain program dan bidang lainnya, kemudian disalurkan untuk bekerja di perusahaan-perusahaan oleh pihak sekolah.

Para pengajar berasal dari Pusat Pelatihan Profesional Taiwan, kegiatan belajar mengajar menggunakan bahasa Mandarin dan Indonesia dengan peralatan yang didatangkan dari Taiwan. Dengan menggunakan peralatan dari Taiwan, para siswa nantinya juga dapat menjadi sales mesin Taiwan yang tangguh.

Kao Ying-chang pendiri sekolah Formosa Teknologi Sentral mengatakan, mencari teknisi dan operator mesin tidak mudah, tenaga ahli menjadi rebutan antara pabrik dan perusahaan. Ia mengatakan, "Ini adalah awal pemikiran saya untuk mendirikan sekolah".

Kisah-kisah seperti ini memperlihatkan keberhasilan teknologi Taiwan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat Indonesia, diawali oleh belasan siswa, menjadi puluhan dan ratusan di masa yang akan datang. Para teknisi terampil ini nantinya akan dapat menghidup keluarga mereka.

Kao Ying-chang mengatakan, "Mungkin sumber daya dan anggaran hubungan diplomasi yang dimiliki Taiwan tidak sebanding negara-negara besar, tapi ke manapun orang Taiwan pergi, kami akan berupaya untuk membaur dengan masyarakat dan melakukan kegiatan amal, dan semua ini sudah disaksikan oleh masyarakat Indonesia."